Distance Parenting - Merantau untuk kerja itu bukan
keputusan yang diambil dengan ringan. Apalagi kalau kamu harus meninggalkan
anak yang masih kecil di rumah, dititipkan ke nenek atau saudara, sementara
kamu berangkat ke kota lain demi penghasilan yang lebih baik. Di balik transfer
bulanan dan kiriman video singkat, ada satu hal yang jarang orang ceritakan,
yaitu beban psikologis yang cukup berat. Fenomena ini punya nama: distance
parenting, kondisi ketika orang tua, khususnya ibu, harus menjalankan peran
pengasuhan dari jarak jauh karena tuntutan pekerjaan.
Sebuah penelitian di jurnal Discover
Mental Health (2025) menemukan bahwa ibu muda yang menjalani distance
parenting sering mengalami perasaan bersalah, sedih, dan meragukan kemampuan
mereka sebagai orang tua. Bukan karena tidak cinta, tapi justru karena terlalu
peduli. Yang memperberatnya adalah tekanan dari dua arah: di satu sisi ada
tuntutan pekerjaan agar keluarga tetap bisa makan, di sisi lain ada ekspektasi
sosial yang berbisik bahwa ibu yang baik seharusnya selalu ada di rumah. Di
antara dua tekanan itulah, banyak ibu muda berjalan sendirian, tanpa ruang
untuk mengeluh, apalagi menangis.
- Key Takeaways
- Distance parenting adalah fenomena nyata yang
berdampak serius pada psikologis ibu muda yang bekerja jauh dari anak.
- Perasaan bersalah, sedih, sepi, dan khawatir
adalah respons emosional yang umum dan valid, bukan tanda kelemahan.
- Tekanan sosial dan minimnya dukungan dari
lingkungan memperburuk kondisi mental ibu yang menjalani distance parenting.
- Komunikasi jarak jauh yang konsisten dan
bermakna bisa membantu menjaga kedekatan emosional antara ibu dan anak.
- Menjaga kesehatan mental ibu sama pentingnya
dengan menjaga hubungan ibu dan anak.
Apa yang Sebenarnya Dirasakan Ibu yang Menjalani Distance Parenting?




Kalau kamu pikir ibu yang jauh dari anaknya hanya "kangen biasa", coba bayangkan ini: setiap hari bangun pagi, berangkat kerja, dan di dalam kepala terus berputar pertanyaan: anak sudah makan belum? Sudah mandi? Ada yang jaga dengan baik tidak? Itulah gambaran yang ada di penelitian tersebut, melibatkan 12 ibu muda berusia 27 hingga 35 tahun yang semuanya bekerja di sektor pertambangan di Rustenburg, Afrika Selatan.
Hasilnya? Ada empat tema besar yang muncul dari cerita mereka.
Rasa Bersalah dan Merasa Gagal sebagai Ibu
Ini yang paling sering muncul. Banyak ibu merasa bersalah bukan karena mereka jahat, tapi karena standar sosial tentang ibu "yang baik" masih sangat kuat. Masyarakat kita masih sering mendefinisikan ibu ideal sebagai seseorang yang selalu ada, selalu hadir secara fisik. Ketika kenyataannya tidak seperti itu, muncullah rasa gagal yang menggigit pelan-pelan.
Salah satu peserta dalam penelitian itu bilang bahwa dia sering merasa bersalah karena anaknya masih terlalu kecil untuk mengerti kenapa ibunya selalu pergi. Kalimat itu pendek, tapi beratnya luar biasa.
Kesedihan yang Datang Bertubi-tubi
Bukan cuma rindu. Ibu yang menjalani distance parenting juga sering merasa sedih karena melewatkan momen-momen penting: ulang tahun anak, hari pertama sekolah, momen lucu yang cuma terjadi sekali. Ada peserta penelitian yang bilang bahwa setelah video call dengan anaknya, dia justru merasa makin sedih, bukan lebih lega. Karena layar tidak bisa menggantikan pelukan.
Merasa Sendirian dan Minim Dukungan
Di tempat kerja yang baru, jauh dari keluarga, banyak ibu ini tidak punya sistem dukungan yang cukup. Tidak ada yang benar-benar mengerti apa yang mereka rasakan. Bahkan, beberapa dari mereka juga mendapat penghakiman dari lingkungan sekitar, dianggap egois, atau malah dituduh "enak-enakan" di kota padahal anaknya ditinggal di kampung.
Tekanan sosial ini bukan hal kecil. Penelitian itu menegaskan bahwa penghakiman dari komunitas dan keluarga justru memperburuk kondisi mental ibu-ibu ini, bukan membantu.
Khawatir Terus soal Kesejahteraan Anak
Bahkan ketika anak sudah dititipkan ke tempat yang aman, rasa khawatir tetap ada. Ibu tetap bertanya-tanya soal makanan anak, pergaulannya, kondisi emosionalnya. Rasa takut ini muncul dari naluri keibuan yang tidak bisa dimatikan hanya karena jarak memisahkan.
Dan yang membuat ini makin berat, kekhawatiran itu tidak punya jam istirahat. Ibu bisa sedang rapat, tapi pikirannya melayang ke rumah. Bisa sedang makan siang, tapi tiba-tiba membuka WhatsApp untuk mastiin anak sudah makan. Kondisi ini, kalau dibiarkan terus tanpa ruang untuk diproses, bisa berujung pada kelelahan emosional yang serius.
Lalu, Apa yang Bisa Dilakukan?
Tentu tidak ada solusi ajaib yang bisa menghilangkan semua rasa itu dalam semalam. Tapi ada langkah-langkah nyata yang bisa membantu menjaga hubungan emosional antara ibu dan anak, sekaligus menjaga kesehatan mental sang ibu.
Bangun Rutinitas Komunikasi yang Konsisten
Kunci dari komunikasi jarak jauh bukan pada seberapa canggih alatnya, tapi seberapa konsisten dilakukannya. Jadwalkan panggilan video di jam yang sama setiap hari atau setiap beberapa hari. Bisa sesimple menemani anak sarapan lewat video call, atau sekadar mengobrol sebelum tidur. Konsistensi ini yang membuat anak merasa tetap punya ibu yang hadir, walau secara fisik tidak di sana.
Libatkan Anak dalam Percakapan Sehari-hari
Jangan hanya tanya "sudah makan belum?" atau "nilai ulangannya berapa?". Tanya juga perasaannya. Ceritakan juga aktivitasmu hari ini. Hubungan itu tumbuh dari cerita-cerita kecil yang dibagikan, bukan hanya dari laporan harian. Anak yang merasa didengar dan diajak ngobrol akan lebih mudah terbuka, dan ibu pun bisa merasa lebih terlibat dalam tumbuh kembang anak meski terpisah jarak.
Koordinasi dengan Pengasuh atau Keluarga di Rumah
Ibu yang jauh perlu tahu apa yang terjadi pada anaknya. Pastikan ada orang yang bisa dipercaya untuk memberikan update rutin, bukan hanya ketika ada masalah. Ini membantu ibu merasa tetap terlibat, bukan sekadar penonton dari jauh. Kalau bisa, tentukan satu orang penanggung jawab yang bisa dihubungi kapan saja, sehingga informasi tidak simpang siur dan ibu tidak perlu menebak-nebak kondisi di rumah.
Jaga Juga Kesehatan Mental Diri Sendiri
Ini sering dilupakan. Ibu yang capek secara mental tidak bisa memberikan yang terbaik untuk anaknya, bahkan lewat telepon sekalipun. Cari komunitas, teman bicara, atau kalau perlu akses layanan konseling. Tidak ada yang salah dengan meminta bantuan. Justru dengan menjaga diri sendiri, ibu bisa hadir lebih penuh, lebih tenang, dan lebih sabar ketika berinteraksi dengan anak walau hanya lewat layar.
Kesimpulan
Distance parenting bukan pilihan yang diambil karena ibu tidak peduli. Justru sebaliknya, banyak dari mereka melakukan ini demi masa depan anak yang lebih baik. Tapi beban psikologisnya nyata dan tidak boleh diabaikan.
Rasa bersalah, kesedihan, rasa sepi, dan kekhawatiran adalah bagian dari perjalanan ini. Yang bisa kita lakukan adalah membangun jembatan komunikasi yang kuat, menciptakan rutinitas yang membuat anak tetap merasa dicintai, dan memastikan ibu tidak harus menanggung semuanya sendirian.
Masyarakat, keluarga, dan tempat kerja punya peran besar di sini. Bukan menghakimi, tapi mendukung. Kebijakan kerja yang lebih ramah keluarga, akses konseling yang terjangkau, dan lingkungan sosial yang tidak mudah menghakimi bisa sangat membantu. Karena ibu yang bahagia dan sehat mentalnya, walau dari jarak jauh sekalipun, tetap bisa menjadi ibu yang hadir dan bermakna untuk anaknya.
“Kamu tidak bisa menuangkan air dari gelas yang
kosong. Jaga dirimu, agar kamu bisa terus ada untuk orang-orang yang kamu
cintai.”
Writer Notes
Notes
Nulis artikel ini bikin saya sadar betapa banyak hal yang kita normalisasi tanpa benar-benar memahami beratnya. Ibu yang merantau sering kali hanya terlihat dari sisi "pengiriman uang", padahal di balik itu ada banyak rasa yang tidak pernah diucapkan. Semoga tulisan ini bisa jadi sedikit pengingat bahwa mereka juga butuh didengar, bukan hanya diapresiasi dari jauh.