admin@dialogika.co +62 851 6299 2597
Sibuk adalah privilege, Hustle Culture, Gen Z, Productivity Mindset, Work Life Balance, Generasi Muda, Beban Kerja

Apakah Sibuk Itu Privilege? Hustle Culture di Kalangan Gen Z

Sibuk Itu Privilege, Generasi Z -  “Duh, maaf nggak bisa ikut main, lagi sibuk banget nih.”

Kalimat sederhana itu menjadi salah satu kalimat yang kerap diucapkan di kalangan generasi Z. Dari para mahasiswa hingga pekerja muda, kesibukan bisa dianggap sebagai ‘hobi baru’ sampai status sosial. Baru-baru ini, terdapat diskursus menarik di Twitter (X) mengenai “Apakah sibuk itu sebuah privilege?”

Ada yang mengatakan bahwa sibuk adalah keberuntungan tersendiri dan sebagian lain menganggapnya sebagai sebuah perangkap dalam pola hidup yang melelahkan. Lalu bagaimana sibuk diartikan oleh generasi saat ini?

  • Key Takeaways
  • Sibuk Itu Privilege
  • Hustle Culture Gen Z
  • Generasi Z
  • Work Life Balance
  • Productivity Mindset Gen Z
  • Gen Z Burnout
  • Membangun Kesibukan

Apa itu sibuk?

Jika merujuk pada KBBI, sibuk sendiri memiliki tiga arti yakni, banyak yang dikerjakan; giat dan rajin (mengerjakan sesuatu); dan penuh dengan kegiatan. Sederhananya, sibuk berarti ada banyak kegiatan yang dilakukan untuk mengisi waktu. Namun dalam kehidupan sehari-hari, sibuk tidak terbatas pada jumlah kegiatan yang dilakukan, tetapi juga kualitas serta makna dari kegiatan tersebut.

Bagi generasi Z, sibuk kerap dikaitkan dengan proses pembentukan identitas diri dan personal branding mereka. Kesibukan dianggap sebagai cara mengembangkan keterampilan, memperluas jaringan, dan membangun jati diri. Tak jarang sibuk dianggap sebagai produktivitas. Akibatnya, banyak generasi muda saat ini berlomba mencari berbagai kegiatan untuk mendapatkan kesibukan, mulai dari mengikuti internship, kerja part-time, hingga membuat konten digital.

Namun, jika melihat sisi lain, sibuk dimaknai berbeda bagi sebagian orang. Sibuk bukanlah sebagai kegiatan yang dilakukan untuk mengisi waktu, tetapi kegiatan yang terpaksa dilakukan demi bertahan hidup. Misalnya seorang mahasiswa yang harus bekerja part-time di berbagai tempat demi bisa membayar biaya kuliah. Dalam konteks itu, sibuk bukan diartikan sebagai cara untuk berkembang, tetapi sebagai bentuk survival mode seseorang.


Tidak Semua Orang Bisa Sibuk

Banyak orang yang mendambakan kesibukan, tetapi terjebak dalam berbagai persoalan. Seperti seorang fresh graduate yang ingin sibuk bekerja, tetapi masih menjadi pengangguran karena sulitnya mendapatkan pekerjaan. Atau seorang mahasiswa yang ingin aktif berorganisasi, tetapi terhalang oleh akses ekonomi ataupun kesempatan.

Di sinilah muncul pandangan bahwa sibuk adalah privilege. Sibuk menjadi “kemewahan” tersendiri ketika seseorang memiliki kesempatan, keberuntungan, dan akses yang memadai untuk mendapatkan kesibukan itu. Mereka yang memiliki “kemewahan” itu kemudian dianggap sebagai seseorang yang memiliki arah dan tujuan yang jelas mengenai dirinya.


Jadi, Apakah Sibuk Itu Sebuah Privilege?

Jawabannya, iya.
Sibuk adalah privilege tersendiri, bagi sebagian orang yang memiliki kesempatan, keberuntungan, hingga akses yang memadai. Misalnya sibuk mengembangkan passion mereka melalui organisasi, kuliah, hingga pekerjaan. Itu dianggap “kemewahan” karena tidak semua orang bisa memilikinya.


Namun, sibuk juga menjadi sebuah perangkap tersendiri bagi mereka yang melakukannya karena kondisi keterpaksaan. Sibuk yang lahir dari kebutuhan untuk bertahan hidup serta keterbatasan kesempatan dan akses yang memadai bukanlah sebuah privilege, melainkan beban. Dengan arti lain, sibuk menjadi kemewahan ketika itu bisa menjadi ruang untuk tumbuh bagi seseorang, tetapi sibuk akan menjadi sebuah jebakan ketika sibuk menjadi ruang untuk bertahan.

Penutup

Hidup di dalam hustle culture bukanlah hal yang mudah bagi generasi Z. Semua orang terlihat berusaha sangat keras untuk mencari dan membentuk identitas diri, produktivitas semata, hingga validasi sosial. Namun yang terpenting saat ini bukanlah banyak atau sedikitnya kesibukan, tetapi kendali diri terhadap waktu dan arah tujuan hidup mereka sendiri. Pada akhirnya yang kita perlukan adalah kehidupan yang seimbang serta penuh makna dan mampu membuat kita merasa benar-benar hidup.


“Those who are wise won't be busy, and those who are too busy can't be wise.”


Gambar kak Afifah Rismayanti

Afifah Rismayanti

Boleh takut, tapi jangan lupa berani.

Writer Notes

Notes

Fenomena sibuk di kalangan Gen Z semakin sering menjadi bahan perbincangan, terutama di media sosial seperti Twitter (X). Baru-baru ini ada perbincangan mengenai apakah sibuk adalah privilege? Artikel ini dibuat untuk membuka ruang diskusi, "apakah sibuk benar-benar privilege, atau sekadar bentuk keterpaksaan dalam hustle culture?" sekaligus menjadi bahan reflektif dalam memaknai kesibukan mereka sendiri, apakah benar memberi pertumbuhan, atau hanya membuat mereka terjebak dalam lingkaran survival.

Komentar