Stoikisme, Era Digital, Pengendalian Diri - Kalian tahu gak sih, ada sebuah pemikiran yang muncul karena para pemikirnya suka nongkrong dan ngobrol di teras dari suatu kuil? Aku yakin kalian pernah denger pemikiran yang satu ini, soalnya akhir-akhir ini lagi banyak banget yang ngebahas tentang aliran ini di konten-konten TikTok, Instagram, atau mungkin pernah disebut di obrolan tongkrongan kalian. Nah, aliran yang aku maksud adalah Stoikisme. Tapi, walaupun lahir di zaman yang kuno, Stoikisme masih sering dijadikan solusi atau metode pengendalian diri di zaman sekarang, lho! Jadi...apa sih sebenarnya Stoikisme itu dan gimana dia bisa tetep relevan di era sekarang yang serba digital ini?
- Key Takeaways
- Internet Itu Inovatif, Tapi Harus Selektif
- Aliran Stoikisme
- Stoikisme dan Era Digital
- Prinsip Stoikisme
- Kontrol dan Pengendalian Diri
Internet dan Segala Huru-Haranya
Di tengah gempuran notifikasi, tuntutan performa, dan perbandingan sosial yang merajalela di media digital, banyak orang, khususnya generasi muda, merasa kewalahan secara mental dan emosional. Era digital menghilangkan hambatan dalam menyebarkan informasi. Melalui teknologi seperti internet dan media sosial, kita bisa mengakses informasi dengan mudah dan praktis. "One Click Away", istilah yang biasa digunakan untuk mengungkapkan bahwa segala hal hanya butuh satu kali klik untuk bisa diakses dan dikonsumsi. Tentu, ini adalah inovasi dan "alat bantu" yang mutakhir bagi manusia untuk menjalankan kehidupan. Tapi, di sisi lain, kemudahan dalam penyebaran informasi di internet juga berarti kemudahan penyebaran hal-hal negatif yang juga datang dari internet. Era digital juga berarti mudahnya tersebarnya informasi palsu, hoax, penipuan, hingga narasi dan sentimen yang berasal dari informasi dan berita yang tersebar. Hal ini akhirnya menjadikan internet dan digitalisasi sebagai pisau bermata dua bagi kehidupan manusia.
Situasi ini pada akhirnya akan menjadi problem di ranah psikologis dan pengendalian diri manusia sebagai produsen sekaligus konsumen langsung dari informasi yang didistribusikan di internet. Era digital ini memaksa manusia untuk tidak hanya memandang internet sebagai teknologi atau alat penyebar informasi, tapi juga sebagai hal yang bisa mempengaruhi bagaimana manusia berpikir dan bertindak secara signifikan. Disinilah Stoikisme hadir untuk menjadi jalan bagi manusia untuk bisa mengendalikan emosi dan pikiran di tengah huru-hara "peristiwa digital" yang tidak habis-habisnya
Jadi...Apa sih Stoikisme Itu?
Pernah dengar nama-nama seperti Marcus Aurelius, Seneca, atau Epictetus? Mereka bukan motivator TikTok atau content creator Instagram yang ngomong soal “healing” dan “self-control” setiap hari. Tapi justru merekalah akar dari semua itu, para pemikir dari ribuan tahun lalu yang jadi tonggak Stoikisme. Aliran filsafat ini lahir di Yunani sekitar abad ke-3 SM dari Zeno of Citium, lalu berkembang pesat di Kekaisaran Romawi. Lucunya, meskipun Stoikisme lahir dari zaman ketika manusia belum mengenal Wi-Fi, scrolling, dan deadline mingguan, ajarannya masih terasa segar untuk dunia yang justru makin bising dan over-connected kayak sekarang.
Inti dari Stoikisme sebenernya sederhana: fokus sama hal yang bisa kamu kendalikan, dan lepaskan yang nggak bisa. Stoikisme ngajarin kita untuk gak terombang-ambing sama kejadian eksternal atau hal-hal yang di luar kendali. Seorang Stoik percaya bahwa yang bisa dikendalikan itu cuma satu: diri sendiri. Pikiran kita. Pilihan kita. Reaksi kita. Makanya, ketika ada masalah atau kekecewaan, respons orang Stoik bukan panik atau overthinking, tapi menarik napas panjang dan mikir, “Apa yang bisa aku kontrol dari situasi ini?” Mereka gak buang energi buat hal-hal yang cuma bikin emosi naik turun tanpa ujung.
Tapi Stoikisme bukan berarti cuek bebek atau jadi robot tanpa emosi. Justru sebaliknya, Stoik ngajarin kita buat punya kontrol atas emosi tanpa harus menolaknya. Kita diajak buat melihat dunia dan diri kita apa adanya, tanpa drama, tanpa denial. Misalnya, marah itu wajar. Kecewa itu manusiawi. Tapi yang bikin hidup jadi lebih tenang adalah saat kita tahu bagaimana mengelola emosi itu, bukan dikendalikan olehnya. Dalam dunia yang makin cepat dan penuh distraksi kayak sekarang, kemampuan untuk berhenti sejenak, berpikir jernih, dan tetap berpegang pada nilai hidup yang baik adalah salah satu “superpower” yang bisa kita pelajari dari Stoikisme.
Tapi...Apa Hubungannya Stoikisme sama Era Digital?
Di era digital, hidup kita dikelilingi oleh notifikasi, perbandingan sosial, dan tuntutan untuk selalu terlihat “sibuk tapi bahagia”. Kita bangun tidur langsung cek HP, buka Instagram, scroll TikTok, baca chat kerjaan, dan sebelum sadar… hari sudah jalan duluan tanpa sempat bertanya: “Sebenernya aku lagi ngejar apa, sih?” Kehidupan digital bukan hanya memudahkan, tapi juga menyebarkan tekanan yang halus tapi konsisten. Kita merasa harus selalu update, harus responsif, harus kelihatan produktif, dan ketika nggak mampu, muncul rasa bersalah. Padahal, banyak dari itu semua bukan hal yang benar-benar bisa kita kontrol. Dan di sinilah Stoikisme masuk dengan pendekatan yang menenangkan: berhenti mengejar validasi eksternal, dan mulai fokus ke dalam...apa yang bisa kamu kendalikan?
Selain distraksi, kita juga hidup di era di mana setiap pencapaian orang lain bisa muncul di layar kita dalam hitungan detik. Teman kita lulus S2, ada yang kerja di luar negeri, ada juga yang bangun bisnis dan viral. Semua terlihat “on track”, sementara kita? Mungkin baru selesai scroll YouTube sambil makan mie instan. Rasa tertinggal ini bikin overthinking makin besar, padahal perbandingan itu gak pernah adil. Stoikisme ngajarin kita buat gak terlalu larut dalam apa yang dilakukan orang lain. Bagi para Stoik, hidup bukan soal siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling sadar. Dunia digital bikin kita reaktif. Cepat bereaksi, cepat panik, cepat merasa kurang. Tapi Stoikisme mengingatkan: kamu gak harus ikut berisik. Kadang, ketenangan adalah bentuk kekuatan paling besar.
Gimana Kita Bisa Terus Bertahan dengan Stoikisme?
Salah satu prinsip utama Stoikisme yang paling mudah dan relevan diterapkan hari ini adalah dikotomi kendali, yaitu membedakan mana yang bisa kita kendalikan, dan mana yang tidak. Ketika media sosial dipenuhi kabar buruk, opini ekstrem, atau standar kesuksesan yang kadang bikin minder, prinsip ini jadi pengingat penting: kita gak bisa ngatur algoritma atau omongan orang, tapi kita bisa ngatur reaksi kita terhadapnya. Saat kita stuck di kereta karena macet atau kesel karena tugas dibatalin sepihak, prinsip ini menuntun kita untuk tetap tenang. Bukan karena kita pasrah, tapi karena kita sadar: tenang lebih berguna daripada panik terhadap hal yang gak bisa kita ubah.
Prinsip lain yang bisa diterapkan adalah amor fati atau mencintai takdir. Ini bukan soal pasrah dengan keadaan, tapi tentang menerima kenyataan tanpa drama berlebihan, dan tetap melangkah dengan sikap positif. Misalnya, ketika rencana liburan batal karena deadline kerjaan, alih-alih ngedumel terus, kita bisa memilih untuk mengalihkan energi ke hal-hal produktif atau merayakan momen tenang di rumah. Atau saat kita ditolak kerjaan impian, prinsip ini mengajarkan untuk percaya bahwa penolakan bukan akhir, tapi arah baru. Amor fati mengubah cara pandang kita terhadap kejadian—dari rasa gagal, jadi peluang untuk tumbuh.
Tanya Aja Dulu
Susah dan Gugup Ngomong di Depan Umum? Konsul Aja Dulu
Tanya
Admin
Penutup Reflektif
Di tengah hidup yang makin cepat dan riuh ini, Stoikisme hadir bukan untuk menjauhkan kita dari dunia, tapi justru mengajak kita hadir lebih utuh di dalamnya. Bukan dengan menolak perubahan atau mematikan emosi, tapi dengan membingkai ulang cara kita melihat segala sesuatu yang terjadi, baik maupun buruk. Di era digital yang penuh tekanan, kebisingan, dan perbandingan, prinsip-prinsip Stoik terasa seperti ruang teduh. Tempat kita bisa menarik napas, menyadari apa yang benar-benar penting, dan kembali menyusun langkah dengan lebih tenang. Mungkin kita tidak bisa menghindari semua distraksi, tapi kita bisa memilih: untuk tidak larut, untuk tetap sadar, dan untuk terus berjalan dengan kepala tegak, meski dunia di sekitar sedang berisik.
Writer Notes
Notes
Sebagai penulis, saya juga sedang belajar menavigasi hidup di tengah dunia digital yang cepat, ramai, dan sering melelahkan. Di antara notifikasi yang tak berhenti, ekspektasi yang kian menumpuk, dan rasa FOMO yang datang diam-diam, stoikisme membantu saya untuk kembali ke inti: mengelola apa yang bisa saya kontrol, dan melepaskan yang di luar kuasa. Tulisan ini bukan ajakan untuk jadi manusia yang dingin atau pasrah, tapi undangan untuk melihat hidup dengan lebih jernih dan tenang, meski dunia tak pernah berhenti berisik.